MOHON MAAF BLOG KHUSUS PRIBADI

Kumpulan artikel ini diambil dari teman-teman blog lain........
Sedang belajar agama, jadi biarlah menjadi blog untuk belajar sendiri.... bagi teman-temanku yang seiman, silahkan boleh baca-baca... namun ndak boleh menghujat.


Sabtu, 26 Maret 2011

Syech subakir 2

SIAPAKAH SYEKH SYUBAKIR?


Legenda Gunung Tidar Magelang

Keberadaan daerah Magelang terbungkus oleh berbagai legenda. Salah satu dongeng yang hidup dikalangan rakyat mengisahkan --sebagaimana dikisahkan M. Bambang Pranowo (2002)-- bahwa pada zaman dahulu kala, ketika Pulau Jawa baru saja diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dalam bentuk tanah yang terapung-apung di lautan luas; tanah tersebut senantiasa bergerak kesana kemari. Seorang dewa kemudian diutus turun dari kahyangan untuk memaku tanah tersebut agar berhenti bergerak. Kepala dari paku yang digunakan untuk memaku Pulau Jawa tersebut akhirnya menjadi sebuah gunung yang kemudian dikenal sebagai Gunung Tidar. Gunung yang terletak di pinggir selatan kota Magelang yang kebetulan berada tepat dibagian tengah Pulau Jawa tersebut memang berbentuk kepala paku; karena itu gunung Tidar dikenal luas sebagai “pakuning tanah jawa”.

Dongeng lain yang tentunya diciptakan setelah masuknya Islam mengisahkan bahwa pada zaman dahulu daerah ini merupakan kerajaan jin yang diperintah oleh dua raksasa. Syekh Subakir, seorang penyebar agama Islam, datang ke daerah ini untuk berdakwah. Tidak rela atas kedatangan Syekh tersebut terjadilah perkelahian antara raja Jin melawan sang Syekh. Ternyata Raja Jin dapat dikalahkan oleh Syekh Subakir. Raja Jin dan istrinya kemudian melarikan diri ke Laut Selatan bergabung dengan Nyai Rara Kidul yang merajai laut Selatan. Sebelum lari Raja Jin bersumpah akan kembali ke Gunung Tidar kecuali rakyat didaerah ini rela menjadi pengikut Syekh Subakir.

Legenda ini sangat melekat bagi masyarakat tradisional Jawa, tidak sekedar di Magelang, tapi juga ke daerah-daerah lain di Jawa, bahkan sampai di Lampung dan mancanegara (Suriname). Hal ini karena telah disebutkan dalam jangka Joyoboyo dan mengalir secara tutur tinular menjadi kepercayaan masyarakat. Apalagi pemerintah kota Magelang menjadikan Tidar sebagai simbol atau maskot daerah dengan menempatkan gunung Tidar yang dilambangkan dengan gambar paku di dalam logo pemerintahan. Di samping itu nama-nama tempat begitu banyak menggunakan nama Tidar, seperti nama Rumah Sakit Umum Daerah, nama perguruan tinggi, nama terminal dll. Yang semuanya menguatkan gunung Tidar menjadi legenda abadi.


Ribuan Warga Padati Haul Syech Subakir

Peringatan Haul Syeikh Subakir ke-534 yang digelar di kawasan Makam Astana Gedong Kenep, Kelurahan Mangunjiwan, Kecamatan Demak Kota berlangsung sangat meriah.

Rombongan warga yang datang dari berbagai daerah memadati tempat acara yang berlangsung di areal Yayasan Karaton Glagahwangi ini, Minggu malam (25/1). Mereka datang dari berbagai penjuru desa di Demak serta berasal dari luar daerah, seperti Kudus, Jepara, Grobogan, Semarang, Solo, Jakarta, Sumatera, Bali dan daerah-daerah lainnya.

Humas panitia haul, Mukti Wijaya, menuturkan, Syeikh Subakir dikenal sebagai salah seorang tokoh penasihat Walisongo. Syeikh Subakir adalah salah seorang penyebar Islam pertama yang berdarah asli Jawa.

"Para pengunjung yang berdatangan dengan harapan dapat ngalab berkah. Mereka juga rela begadang semalam suntuk menonton pementasan wayang yang dimainkan Dalang Ki Manteb Sudarsono asal Surakarta, kata Mukti.

Lebih lanjut Mukti menuturkan, makam Syeh Subakir diakui oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Berdasarkan legenda kesejarahan yang ada, jasad yang dimakamkan di tempat itu merupakan tokoh penanda tangan masuknya agama Islam ke tanah Jawa. (mi

Anda sedang membaca artikel tentang Syech subakir 2 dan anda bisa menemukan artikel Syech subakir 2 ini dengan url http://robanaa.blogspot.com/2011/03/syech-subakir-2.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Syech subakir 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Syech subakir 2 sumbernya.